Hana, seorang gadis cantik berumur 13 tahun dan berambut
panjang sebahu. Dengan seragam SMP yang baru, ia telah siap untuk menaiki
tangga pendidikan yang lebih tinggi. Ia melangkah dengan hati yang gembira dan
berdebar. Hana takut jika dirinya tidak bisa mendapat teman.
Dari kejauhan, seorang anak laki-laki membelah angin.
Senyumnya mengambang. Dengan percaya diri, ia menyapa setiap orang yang
dijumpainya. Para wanita terpesona dengan keramahannya
“Mamoru!” temannya memanggil. Ya, namanya Mamoru. Berumur 14
tahun dan bersekolah di sekolah yang sama dengan Hana, SMP Kageyo.
Mamoru mendekati Hoshi, sahabat karibnya. Hoshi merengut.
Rambut Mamoru yang awalnya merah kecoklatan, kini telah disulap menjadi berwarna
hitam.
“Hei, kau mengubah warna rambutmu?” tanya Hoshi. Mamoru
hanya tersenyum. Hoshi menghela nafas. Lalu mereka berdua melanjutkan
perjalanan menuju sekolah.
Hana sampai di sekolah. Ia gemetar karena harus bertemu
dengan orang-orang yang baru. Tidak ada teman SD yang bisa ditemukan. Hana
masuk ke dalamnya. Tiba-tiba, seseorang menyerukan namanya di depannya.
“Hana!” seru seorang anak laki-laki yang langsung
memeluknya. Hana terkejut.
“Hei, aku merindukanmu! Kau masih ingat aku kan?” tanyanya.
Hana hanya diam. Anak laki-laki itu menyerngitkan dahinya. “Hei, kau lupa
padaku ya? Ini aku, Miyahara Yoshi!”
Hana merasa familiar dengan nama itu. Ia mencoba kembali
mengingat sesuatu. Matanya terbelak. Miyahara Yoshi adalah sahabat sekaligus
cinta pertamanya saat masih 7 tahun! Yoshi pindah dari Nagasaki ke Tokyo karena
orangtuanya berbisnis di sana dan sekarang ia telah kembali!
“Yoshi…-kun?’
Mata Yoshi berbinar-binar dan ia kembali memeluk Hana. hana yang awalnya risih,
kini memblasa pelukannya. Seluruh siswa yang berada di kelas itu mengejek
mereka berpacaran. Tapi Yoshi tidak perduli dan mengajak hana pergi.
Mereka menyusuri lorong sekolah. Tak Jauh dari mereka,
Mamoru dan Hoshi sedang berlomba siapa yang paling cepat sampai di kelas. Dan… brukkk!! Mamoru bertabrakan
dengan Hana. Untung saja Yoshi dengan sigap menahan tubuh Hana yang hampir
terjatuh ke lantai. mamoru berdiri dan minta maaf kepada Hana.
“Tidak apa-apa, ini tidak terlalu sakit. Namaku Hana, aku
dari kelas 1-5. Kamu?” tanya Hana dengan ramah.
“Aku Miyake Mamoru. Aku juga dari kelas 5-1.” Mamoru
melempar senyum manisnya. Ia terus memandangi Hana. Yoshi yang sepertinya
menyukai Hana terlihat cemburu dan mengajak Hana kembali berjalan. Hana dan
Mamoru saling melewati satu sama lain. Mereka tidak tahu bahwa mereka terhubung
oleh TAKDIR.
Kelas dimulai. Seluruh Siswa SMP Kageyo masuk ke dalam kelas
masing-masing dan duduk manis menanti guru mereka. Seorang guru berumur 25
tahun dan berwajah tampan masuk ke dalam kelas 5-1 yang diiringi pandangan
terpesona siswi-siswi kelas itu.
“Halo, nama saya Kanagawa Hiruka. Saya adalah wali kelas
kalian yang baru. Saya mengajar sebagai guru musik.”
Hiruka-sensei (sensei sebutan untuk guru) mengabsen seluruh
siswa 1-5. Sampai pada giliran Hana, semua orang terkejut. Hiruka-sensei
memanggil Hana dengan sebutan –chan (Panggilan akrab atau kesan imut). Seluruh
siswi memandang tajam ke arah Hana.
“Tenang semuanya. Ia adalah adikku, Kanagawa Hana,”
Hiruka-sensei menenagkan. Para siswi menjadi lunak dan sangat baik terhadap Hana.
Hana hanya tersenyum pahit.
Saat istirahat, Yoshi mengajak hana makan siang bersama.
Tapi Hana menolak karena merasa tidak enak badan. Setelah Yoshi pergi, Hana
beranjak dari kelas. Kepalanya terasa sakit. Tanpa disadari, bunga-bunga di
taman sekolah satu persatu mulai layu.
Kini, Mamoru sedang makan siang bersama teman perempuannya,
Kyouka. Kyouka berbicara panjang lebar, sedangkan Mamoru hanya melakukan
kegiatan makannya. Tiba-tiba perasaannya tidak enak. Ia panik dan khawatir
dalam diamnya. Dan ia membayangkan Hana. Mamoru beranjak pergi dari Kyouka yang
masih cerewet.
Hana tertatih-tatih menuju taman bunga. Ia terbelalak
melihat bunga-bunga yang layu. Hana mencoba menahan air matanya. mulai lah Hana
teringat pesan Ayahnya sebelum beliau meninggal.
FLASHBACK
Hana yang saat itu berumur 8 tahun bermain bersama Ayahnya
di kebun bunganya. Tiba-tiba Hana tertunduk lemas. Bunga-bunga di kebunnya
mulai layu. Hana mengeluh, kedua tangannya sakit. Ayah dengan segera memeluk
hana. Tubuh mereka bersinar. Ibu yang keluar dari rumah menatap cemas.
Beberapa menit kemudian, tangan Hana sudah tidak sakit lagi.
Bunga-bunga pun sudah kembali menjadi indah. Hana masih menangis. Ayah
tersenyum memandang putrinya dan dibelainya rambut Hana.
“Hana, Ayah punya tugas untukmu. Jika nanti Ayah meninggal,
tolong cari lah penyelamatmu. Cari lah orang yang bernama sama dengan Ayah.
Jika kamu kembali sakit seperti ini, penyalamatmu hanya lah orang itu. Tapi
tidak sembarang orang. Kamu harus cari yang tepat, yang bisa menyembuhkanmu ketika
sakit. Kita berdua ini adalah orang yang terpilih. Ibumu juga sepertimu, dan
aku adalah penyelamatnya. Sekarang ini Ayah masih bisa menyelamatkanmu. Tapi
kalau Ayah sudah tiada, Ayah tidak bisa lagi membantumu, oke? Ayah pergi dulu,
sampai jumpa.”
Ayah meninggalkan Hana yang terdiam. Beliau melintasi jalan.
Dan… Prang!!!
Bagaikan kaca yang pecah. hati Hana pilu. Ia melihat Ayahnya ditabrak oleh
pengendara mobil. Ibu menghampiri Ayah sembari menangis terisak. Hana terjatuh
lemas. Ia meratapi Ayanya menahan tangis.
Kembali ke masa sekarang…
Seperti dulu, tangan Hana terasa sakit. Ia menangis
kesakitan sambil menggumamkan nama. “Mamoru…
Mamoru… ”
Penglihatan Hana mulai kabur. Dari jauh, Hana melihat seseorang. Hana tersenyum
dengan berurai air mata. Ia melihat Ayahnya tersenyum kepadanya. Hana pun
pingsan.
Mamoru yang ternyata adalah sosok yang dilihat Hana
menggendongnya. Dada Mamoru terasa sakit. Tiba-tiba tubuh mereka bersinar.
Mamoru membawanya ke tengah lapangan. Kondisi Hana makin memburuk. Mamoru dengan
mata berkaca-kaca mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu.
FLASHBACK
Mamoru berlari-lari kecil sambil bersenandung di depan
rumahnya. Seseorang mendekatinya. Mamoru terlonjak kaget. Ternyata itu adalah
Ayah Hana. Beliau mendekatinya.
“Hai, aku adalah Mamoru. Apakah namamu juga Mamoru?” mamoru
mengangguk ketakutan. “Aku ingin meminta tolong padamu. Suatu saat nanti, jika
perasaanmu tidak enak dan kamu membayangkan wajah seseorang, kamu harus segera
mencari orang tersebut. Ia bernama Hana dan sebaya denganmu. Hana sejak kecil
lemah. Kamu hanya perlu menyentuhnya dan ia akan bisa sembuh. Hanya kau yang
bisa melakukannya. Dan terus lah berada di sampingnya. Aku mempercayaimu.”
Mamoru memeluk Hana dengan erat. Mamoru melihat bayangan
Ayah Hana tersenyum, lalu Ayahnya menggenggam tangan Hana. Cahaya yang bersinar
semakin besar. Mamoru melihat ke sekelilingnya. Bunga-bunga itu telah menjadi
layu, seakan telah ditinggal oleh jiwa mereka. Mamoru miris melihat semua itu.
Tiba-tiba, matanya membesar. Ia terkejut melihat satu
persatu nyawa bunga kembali. Setelah semua bunga kembali, Hana tersadar dari
pingsannya. Bayangan Ayah Hana kini perlahan mulai hilang tertiup angin. Mamoru
tersenyum manis.
“Kamu yang menolongku?” tanya Hana. Mamoru menggeleng. “Ayahmu
yang menolongmu.”
Komentar
Posting Komentar
Boleh komentar dengan baik dan benar asalkan tidak menggandung unsur SARA dan perkataan Kotor. Arigatou